• header
  • banner ppdb
  • PENERIMAAN SISWA

Selamat Datang di Website SD Islam Terpadu Al-Misbah | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SD Islam Terpadu Al-Misbah

NPSN : 20504219

Dusun Sedamar Ds.Talun Kidul Kec.Sumobito Kab.Jombang 61483


info@sditalmishbah.sch.id

TLP : (0321) 490843


          

Banner

Jajak Pendapat

No Poles setup.

Statistik


Total Hits : 94672
Pengunjung : 49568
Hari ini : 10
Hits hari ini : 36
Member Online : 0
IP : 18.206.177.17
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Dinas Pendidikan Jombang Incar Dana Tanggap Darurat untuk Rehab SD yang Ambruk




SURYA.co.id, JOMBANG - Dinas Pendidikan Kabupaten Jombangsecepatnya akan mencari dana guna merehabilitasi ruang SDN Randuwatang, Kecamatan Kudu yang ambruk.

Berbagai alternatif sumber pendanaan pun digagas. Antara lain melalui mekanisme Perubahan APBD (PAPBD). Tapi jika langkah ini dianggap terlalu memakan waktu, dipertimbangkan menggunakan dana tanggap darurat bencana.

“Yang pasti bisa dijalankan adalah melaui PAPBD. Tapi waktunya memang agak lama. Karena itu kemungkinan mencari alternatif lain, misalnya mengambil dana tanggap darurat,” Kepala DisdikJombang Drg Budi Nugroho, kepada Surya.co.id, Selasa (17/1/2017).

Tetapi, sambungnya, untuk menggunakan dana tanggap darurat, harus didiskusikan dengan berbagai pihak karena mesti memenuhi berbagai persyaratan khusus.

“Kami akan diskusikan dulu dengan Bagian Hukum, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan Bappeda. Kalau tidak menabrak aturan, kami pakai itu (dana tanggap darurat). Kalau tidak bisa, terpaksa pakai dana P-APBD,” terang mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) ini.

Menurut perhitungan sementara, kebutuhan untuk merehabilitasi atap yang roboh itu sebenarnya tidak terlalu banyak karena hanya mengganti genting dan kerangka penyangga atap.

“Temboknya masih bagus. Jadi perkiraan hanya perlu biaya Rp 150 juta untuk rehab,” cetus Budi.

Disinggung mengenai proses belajar para siswa di SDN Randuwatang, Budi menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar tetap berjalan meski harus menggunakan musala dan menggabungkan dua kelas dalam satu ruang.

"Di sini siswanya kebetulan hanya 51 orang anak. Jadi, tidak terlalu masalah kalau satu ruangan jadi dua kelas. Yang penting pihak sekolah tetap melaksanakan proses belajar," pungkas Budi.

Diberitakan sebelumnya, atap bangunan SDN Randuwatang, Kecamatan Kudu, Jombang, ambruk.

Kendati tidak ada korban jiwa, namun akibat kejadian itu, siswa harus belajar di musala sekolah. Sebagian lagi harus menggunakan ruang terpisah bersamaan dengan kelas lain.

Siswa yang yang harus belajar di musala dan ruang kelas lain akibat peristiwa ini adalah siswa kelas 1, 2, dan kelas 3. Para siswa tiga kelas itu biasanya menggunakan bangunan yang ambruk dan kelas di sebelahnya yang kini dikosongkan.

“Untuk siswa kelas 1 menempati musala. Sedangkan siswa kelas 2 dan 3 menumpang di ruangan kelas lain. Ini terjadi setelah atap kelas 1 roboh dan ruang sebelahnya dikosongkan karena kondisinya juga juga sudah lapuk,” kata Kepala SDN Raduwatang Subejo.



Share This Post To :




Kembali ke Atas


Berita Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :

 

Komentar :


   Kembali ke Atas